Pak, terima kasih ya atas doanya. Alhamdulillah aku lulus seleksi beasiswa untuk melanjutkan S2 ke negeri lain. Sedih rasanya kau tak lagi bersamaku di hari pengumuman itu, tapi ku tahu kau turut berbahagia di sana.
Showing posts with label Personal Thoughts. Show all posts
Showing posts with label Personal Thoughts. Show all posts
November 6, 2017
June 13, 2016
Blessed
"Banyak orang akan berusaha menjatuhkan kepercayaan dirimu, meragukan ucapanmu, menganggapmu gila. Tidak akan mudah, Zarah. Yang paling sulit dari semua itu adalah percaya kepada dirimu sendiri, percaya bahwa kamu tidak gila."
Partikel - Dewi Lestari
Aku tak percaya saat sahabat dekatku memprediksikan bahwa aku akan menangis ketika membaca novel Partikel karya Dewi Lestari. Ternyata benar adanya, aku tak henti-hentinya menyeka air mata saat membaca kisah Zarah dan ayahnya, Firas.
Saat kau sangat dekat dengan seseorang yang kini tak lagi bersamamu dan saat hatimu belum sepenuhnya melepaskan, maka saat itulah segala sesuatu yang membuatmu mengenangnya akan terasa sangat menyakitkan.
Novel tersebut berhasil membangkitkan kenangan akan bapakku yang kini bersama-Nya. Kenangan yang setahun belakang ini berebut untuk dikenang lebih dulu, entah itu senang, entah itu sedih.
Betapa beruntungnya aku dibesarkan oleh seorang bapak yang sangat logis, open minded, dan demokratis. Bapak yang gemar sekali bercerita, cerita apapun itu tentang dunia, tentang ayam berkokok, tentang lagu nasional Jepang yang sampai sekarang belum pernah kudengar secara utuh.
Tanpamu, mungkin aku tidak akan menjadi aku yang sekarang. Aku yang percaya pada diriku sendiri karena kau begitu mempercayaiku.
Terima kasih, Pak. Yang kau tinggalkan bukanlah sesuatu yang berwujud, melainkan sesuatu tak berwujud bernama R A S I O N A L I T A S, sesuatu yang jarang kutemui pada banyak orang.
June 6, 2016
Kejutan-Mu
Mungkin aku sedikit lelah dengan segala perencanaan dalam hidupku. Kubiarkan diriku menerima kejutan-Mu, wahai Engkau Maha Tahu Segala, Maha Pemberi Saat Tak Terduga.
Saat aku ingin istirahat sejenak dari pekerjaan, rasanya aku ingin marah ketika pengajuan cutiku ke Jogja tak kunjung di-approve atasan. Namun secara tak terduga, Kau memberikanku pekerjaan ke Padang yang didalamnya terkandung "liburan" tak terduga.
Sesampainya di Padang, kudapati koper kesayanganku rusak parah tertimpa bagasi lain. Aku tidak marah, aku tidak kesal, dan aku tak ingat apa yang kurasakan saat itu. Pikiran yang terlintas hanya "ohh rusak, yaudah nanti beli lagi".
Tak berhenti disitu, hari kedua di Padang Kau kejutkan aku dengan gempa bumi. Aku sudah biasa dengan gempa bumi ketika kuliah di Jogja dulu. Tapi tak pernah kurasakan gempa bumi dengan kekuatan 6,5 SR. Namanya manusia, ternyata aku masih takut mati. Barulah kurasakan apa yang paling berharga dalam hidupku ketika aku lari keluar dari kamarku melalui tangga darurat.
Aku tak bermaksud menantang, tapi rupanya Kau benar-benar mengejutkanku. Hari terakhir di Padang, saat aku tengah jalan-jalan seorang diri, ada seorang kakek yang menawarkan dirinya menemaniku. Sampai pada akhirnya berpisah, si kakek berkata "saya mau ikut kamu sejauh-jauhnya, karena saya tidak punya teman". Aku berkata dalam hati pada kakek itu "jangan pernah merasa kesepian, karena Tuhan selalu bersama kita, sadar atau tidak". Ternyata kata-kata itu bukan untuk si kakek, melainkan untuk diriku sendiri.
Wahai Engkau Maha Tahu Segala, Maha Pemberi Saat Tak Terduga, rupanya Kau mengajarkanku secara tidak langsung untuk tidak marah, untuk tidak kecewa, untuk tidak takut, untuk tidak merasa kesepian berpisah dengan ia yang kukira belahan jiwa.
Matur Sembah Suwun Gusti
May 9, 2016
April 25, 2016
March 4, 2015
Cita, Asa, Harapan: Dulu, Kini, dan Nanti
"Pulang ke kotamu, ada setangkup haru dalam rindu. Masih seperti dulu, tiap sudut menyapaku bersahabat penuh selaksa makna.."
Seketika lagu Yogyakarta yang dinyanyikan oleh Kla Project mengalun dalam benak saat kereta Progo yang membawa kami dari Jakarta akhirnya tiba di Stasiun Lempuyangan, Yogyakarta. Senyum tipis terkembang di sudut bibir sambil berkata dalam hati, ahh Jogja..
Tujuan utama saya datang ke Jogja kali ini adalah untuk melakukan wisata akademik. Lebih tepatnya wisata napak tilas masa menjadi mahasiswa dulu. Tak lain dan tak bukan adalah untuk mengumpulkan sisa asa, cita, mimpi, dan harapan yang dulu pernah terserak sepanjang jalan dari kos-kosan menuju kampus. *lebay ya, tapi ini nyata :)*
Setelah tak lagi menjadi mahasiswa dan harus menjalani hidup sebagai karyawan, tak jarang tuntutan dan tekanan pekerjaan terasa sangat menyesakkan dada. Namun, mengingat kembali perjuangan dulu untuk bisa masuk bahkan lulus dari kampus ini sungguh sangat membantu mengurangi rasa sesak itu. Those good memories still linger on me.
Kenangan itupun dimulai dari masa Ospek. Ospek kala itu sungguh sangat berkesan dan jauh dari kata perpeloncoan apalagi kekerasan. Tak berhenti sampai disitu, seiring berjalannya waktu, kesan itu malah semakin dalam. Ada perasaan senang, takjub, bahkan terharu saat orang-orang pintar dan terkenal yang hanya saya lihat di televisi atau bahkan sering namanya saya dengar disebut dimana-mana, menjadi dosen saya. Ya, saya mereguk langsung ilmu dari orang-orang pintar itu yang dengan senang dan ikhlas berbagi pengalaman dan pengetahuan yang mereka miliki. Betapa beruntungnya saya berada di lingkungan yang bahkan tak pernah saya bayangkan sebelumnya.
Selain itu, saya juga sangat merindukan masa-masa belajar kelompok bersama di perpustakaan, di bawah pohon rindang, bahkan di meja bundar berpayung besar di halaman kampus. Mengerjakan tugas kelompok dan membicarakan tentang masa depan sambil diselingi dengan gelak tawa ringan. Saling bekerja sama dan berkompetisi disaat yang bersamaan adalah hal yang lumrah kala itu. Dimana nilai UTS/UAS yang ditempel di papan pengumuman akademik adalah parameter utamanya. Angin akademis berhembus sangat kencang di kampus ini.
Lain di kampus, lain pula kehidupan di kantor. Kini, saat kompetisi dilaksanakan dengan cara yang tidak sehat bahkan cenderung kotor, mental ini serasa belum siap untuk menghadapinya. Tak jarang, air mata adalah obat paling ampuh sementara untuk menenangkan hati sendiri. Apabila air mata dirasa sudah tak cukup ampuh, resign adalah jawabannya. Namun, orang bilang life must go on. Karena merasa berada di lingkungan yang kurang sesuai dengan hati, bukan berarti harus selalu pergi dan mencari yang sesuai dengan hati. Mengingat kembali perkataan dosen saya yang mengutip teori evolusi Charles Darwin "survival of the fittest" yaitu yang mampu beradaptasi lah yang bertahan.
Tiap orang memiliki cara yang berbeda-beda dalam adaptasi, entah itu menjadi lebih baik atau lebih buruk. Satu yang saya imani dan amini, bahwa kerja keras itu tidak pernah sia-sia. Mungkin maanfaatnya belum dirasakan saat ini, tapi selalu ada hikmah yang dapat dipetik. Dan saya selalu percaya, ada kehendak Tuhan di dalam setiap fase kehidupan yang saya jalani saat ini.
Jadi, saya akan terus bermimpi mewujudkannya menjadi nyata. Karena ada tangan Tuhan yang tak terlihat dan semesta yang selalu mendukung.
"And, when you want something, all the universe conspires in helping you to achieve it." - Paulo Coelho, The Alchemist
Subscribe to:
Posts (Atom)


