July 9, 2017

Belajar TOEFL ITP dan IELTS Sendiri

Score TOEFL ITP saya 567 dalam waktu belajar 3 (tiga) minggu; dan

Score IELTS saya 7 dalam waktu belajar 5 (lima) minggu.

Both succeed at the first attempt. Terdengar gampang ya? Percayalah saya "babak belur" untuk mendapatkan score diatas dan sebagai rasa terima kasih saya pada semesta, maka saya akan sharing cara saya belajar TOEFL ITP dan IELTS sendiri agar bermanfaat bagi orang lain yang ingin apply beasiswa seperti saya.


Jika kamu menemukan post ini, mungkin kamu mengalami hal yang sama dengan saya 2 bulan sebelum mengikuti tes TOEFL ITP dan IELTS yaitu bagaimana caranya belajar TOEFL ITP atau IELTS sendiri. Berbagai pertanyaan muncul dalam kepala dengan pertanyaan pertama "saya harus mulai dari mana?"

Mulailah dengan membaca doa dan niat baik, niscaya Tuhan melalui semestanya akan mendukung doa dan niat baikmu itu.

Doa dan niat baik tersebut harus didukung dengan usaha yang optimal supaya hasilnya juga optimal. Belajar sendiri itu memaksamu menjadi guru dan murid bagi dirimu sendiri disaat yang bersamaan karena tidak ada orang lain yang mengoreksimu, sehingga usahamu belajar minimal harus 2 kali lebih besar dari mereka yang sudah "bawaan" bahasa Inggrisnya bagus atau mereka yang ikut kursus. Meskipun saya sudah memiliki basic knowledge bahasa Inggris, rasa takut belajar IELTS tetap saja tidak dapat dihindari. Dalam hal ini, ada 2 kendala yang saya hadapi saat itu, pertama kendala biaya, kedua kendala waktu. Bagaimana caranya saya bisa mendapat score IELTS minimal 6.5 pada tes pertama tanpa ikut kursus IELTS terlebih dahulu. Selanjutnya bagaimana caranya saya belajar sendiri sementara pekerjaan saya di kantor tidak bisa ditinggalkan.

Alhamdulillah, semesta mendukung saya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut diatas dan saya ucapkan terima kasih banyak pada Mba Kiky dan Cak Shon dengan post mereka tentang belajar IELTS sendiri yang sangat super membantu.

Sebetulnya sejak 2 tahun belakangan ini saya sudah mulai belajar bahasa Inggris sendiri, on - off, tidak fokus, dan tidak konsisten karena tujuan saya untuk apply beasiswa agar bisa sekolah lagi masih nanti di tahun 2018. Kenapa 2018 karena saya masih harus membiayai sekolah adik-adik saya dulu saat ini. Sebetulnya lagi, saya ikut TOEFL ITP itu sebagai hadiah ulang tahun saya di bulan April lalu. Entah angin dari mana yang mendorong saya, tiba-tiba saya memutuskan untuk ikut tes IELTS agar bisa mendaftar LPDP tahun 2017 padahal deadlinenya kurang dari 2 bulan. Dan alhamdulillah saya bisa melewatinya.

Jika ada yang bertanya kenapa saya ikut tes TOEFL ITP dan IELTS sekaligus jawabannya sederhana karena tata bahasa atau grammar saya agak berantakan meskipun basicnya sudah ada. Sebenarnya yang pertama kali saya pelajari adalah IELTS, namun saya kesulitan setengah mati pada saat writing karena saya tidak tahu kata apa yang sebaiknya digunakan setelah kata-kata tertentu dalam menulis formal essay. Menghadapai masalah tersebut, solusi yang saya tahu saat itu adalah belajar grammar, nah karena saya belajar grammar sendiri, maka indikator untuk mengetahui apakah yang saya pelajari itu benar atau tidak adalah dengan mengikuti tes TOEFL ITP, itung-itung sekalian sebagai pemanasan sebelum mengikuti tes IELTS dan sebagai pengganti kursus IELTS. Tes TOEFL ITP itu sendiri biayanya waktu itu Rp 485.000 di IES Jakarta. Selain itu, TOEFL ITP juga dapat digunakan untuk mengukur kelebihan dan kelemahan saya ada pada sub tes apa, sehingga pada saat belajar IELTS saya akan usaha lebih keras pada sub tes yang masih kurang nilainya, meskipun sub tes TOEFL ITP dan IELTS tidak apple to apple, tapi cara belajar seperti ini lumayan membantu.

Belajar sendiri saya lakukan dengan fokus dan konsisten mulai dari jam 4 pagi sampai dengan jam 9 malam tiap harinya, dengan disambi kerja tentunya. Kalau weekend saya lebih suka belajar di Perpustakaan Goethe Institut Jakarta karena tempatnya sangat nyaman untuk belajar. Diakhir-akhir periode belajar menjelang ujian, saya bahkan sampai menginap 3 hari 3 malam di tempat teman saya yang lulusan Sastra Inggris demi latihan speaking. Alhasil selama 2 bulan periode belajar tersebut, kantung mata saya jadi double seperti pak SBY, hehehee. Oke, tiap orang punya cara belajar yang beda-beda, berikut saya share cara saya belajar yaa...


Tips Belajar TOEFL ITP:
  1. Pertama kali yang saya pelajari adalah basic tenses melalui website EnglishClub ini dan menurut saya website tersebut merupakan sumber yang cukup baik untuk belajar grammar dibanding website lainnya.
  2. Naik kelas, saya belajar beberapa grammar advanced melalui website Cambridge Dictionary ini.
  3. Mulai latihan soal grammar melalui buku Betty Scramfher Azar edisi 1, 2, dan seterusnya. Buku anak sekolah ini ternyata memberikan kontribusi yang sangat besar bagi saya dalam memahami complex sentence.
  4. Belajar grammar gratis melalui youtube by Smrt English. Kalian bisa belajar mulai dari level basic, intermediate, advanced, maupun sesuai materi yang kalian butuhkan.
  5. Beli atau download gratis (kalau bisa) buku TOEFL oleh Bruce Rogers ini. Kebetulan saya waktu itu secara tidak sengaja mendapat buku tersebut di Pasar Senen Jakarta seharga 100 ribu rupiah untuk 3 buah buku TOEFL bekas namun asli dari Amerika dan salah duanya adalah buku Bruce Rogers edisi lama dan baru.
  6. Serupa dengan buku pada no.5 diatas, free download buku TOEFL Computer and Paper Based oleh Deborah Phillips versi pdf disini ya, sementara untuk audio nya coba cari di google. Percayalah, buku-buku tersebut sangat membantu dan memiliki nilai signifikan dalam meningkatkan score TOEFL ITP.
  7. Latihan terus soal-soal TOEFL ITP dari sumber apapun itu yang kalian temukan, karena fokus dan konsistensi adalah kunci untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
Catatan TOEFL ITP:
  1. Khusus untuk buku-buku latihan soal yang saya pelajari pada poin no 3 dan 5 diatas itu tidak ada kunci jawabannya. Dengan ketiadaan kunci jawaban tersebut, memaksa saya untuk benar-benar memahami materinya.
  2. Hal baiknya adalah, berdasarkan pengalaman saya, soal latihan bagian structure and written expression pada buku poin no. 5 tersebut diatas jauh lebih sulit dibandingkan dengan soal tes TOEFL ITP sebenarnya. Mungkin itulah yang mengatrol nilai TOEFL ITP saya menjadi lumayan tinggi.
  3. Tips untuk listening section TOEFL ITP bagian 2 dan 3 yaitu membuat "mental notes" pada saat speaker berbicara. Dengan cara tersebut menjawab pertanyaan listening TOEFL ITP bagian 2 dan 3 menjadi lebih mudah.
  4. Tips untuk reading section TOEFL ITP yaitu bacalah soal dulu, garis bawahi kata kunci pada soal tersebut, cari kata yang persis sama atau kata lain yang memiliki arti sama (paraphrase) pada paragraf bacaan, maka disekitar situlah jawaban berada. Berdasarkan pengalaman saya mengikuti tes TOEFL ITP, saya hampir tidak membaca paragraf, yang saya lakukan hanyalah mencari jawaban dengan membaca sepenggal-penggal kalimat.
  5. Oh iya, membulatkan jawaban soal TOEFL ITP itu memakan waktu yang lumayan juga dan melelahkan tangan.
Score TOEFL ITP  saya pada 13 Mei 2017 adalah 567 dengan detail sbb:
Listening: 61
Structure and Written Expression: 55
Reading: 54

Meningkat 97 poin dibandingkan tahun 2011 dulu yang hanya sebesar 470.


Tips Belajar IELTS:

Selesai mengikuti tes TOEFL ITP pada tanggal 13 Mei 2017, saya langsung lanjut belajar IELTS dalam waktu 5 (lima) minggu untuk ujian tanggal 17 Juni 2017. Percaya deh, belajar IELTS jauh lebih mudah setelah kamu percaya diri sama grammar kamu. Tapi, tidak semua orang seperti saya yang memulai belajar IELTS dengan belajar TOEFL ITP dulu. Ada yang cuma belajar IELTS sendiri dan langsung sukses, ada juga yang mengulang ujian IELTS berkali-kali meskipun sudah ikut kursus, yang terpenting adalah usahakan dulu yang terbaik.


LISTENING

Saya memulai belajar IELTS dari hal yang paling saya takuti, yaitu Listening. Meskipun score TOEFL ITP saya paling tinggi ada pada listening section, tetap saja listening IELTS itu menakutkan karena tingkat kesulitan soalnya jauh diatas listening section TOEFL ITP. Tapi jangan sedih, berikut saya share cara saya belajar listening karena terbukti lagi score listening IELTS saya adalah 8 pada actual tesnya.

Sebelumnya saya ingin cerita dulu awal mula saya menjajaki listening section ini dengan mengerjakan soal-soal pada buku IELTS Cambridge 1-3 (buku apa ini cari di google yaa), hampir 50% jawaban adalah salah. Desperate dong saya, kebetulan buku Cambridge ini ada kunci jawabannya, kemudian saya membuat statistik kesalahan terbesar saya ada dimana, yaitu pada kata benda singular/plural dan kesalahan spelling. Mulai dari situlah saya merubah cara saya belajar dan sejak itulah saya berkawan baik dengan IELTS listening section.
  1. Ikuti saran Mba Kiky dan Cak Shon pada post mereka ya. Itu terbukti benar dan manjur. Saya hanya akan menambahkan beberapa hal saja yang saya anggap cukup signifikan dalam meningkatkan score listening IELTS saya.
  2. Kemudian saya belajar tetang apa itu IELTS beserta dengan penjelasannya secara gratis dan online melalui Future Learn dan EDX. Buat account disitu ya, lalu search saja IELTS. Saya memilih belajar IELTS online melalui materi yang dibuat oleh universitas-universitas ternama di dunia karena materi yang diajarkan terasa lebih valid meskipun sumber-sumber lainnya dari youtube juga kadang membantu.
  3. Belajarlah mendengarkan percakapan orang bule dari mana pun itu yang bisa didapatkan. Film, online radio BBC, US, audio book, atau bahkan podcast. Kalau saya lebih suka download podcast agar bisa disimpan di hp dan didengarkan ketika ada waktu dan favorit saya adalah podcast dari Harvard Business Review karena selain bahasanya yang "agak susah" berbicaranya juga cepat dengan aksen Amerika. Jika kalian ingin belajar mendengar aksen Inggris downloadlah podcast BBC atau tontonlah serial Game Of Thrones. Lebih baik lagi bisa belajar mendengar aksen Amerika dan Inggris keduanya supaya tahu bedanya apa. Saya percaya latihan yang berat itu akan memudahkan saya ketika menghadapi tes yang sebenarnya. Disinilah tantangannya, podcast tersebut bukan hanya sekedar di download dan didengarkan lalu paham mereka membicarakan apa, tapi listen and repeat. Ulangilah apa pun yang kalian dengar dalam hatimu atau suarakan bila perlu, secara tidak langsung repeat ini memaksa kalian memahami tenses, grammar, vocabulary, pronunciation, dan intonation pada saat yang bersamaan. Beruntungnya, saya sedikit terbantu dengan terlebih dahulu belajar grammar pada TOEFL ITP sebelumya. Listening ini erat kaitannya dengan speaking. Jadi sekali belajar sebetulnya kalian sudah mempelajari 2 hal sekaligus. Sebagai informasi, saya belajar listen and repeat ini di dalam bus atau kereta ketika hendak berangkat kerja atau pulang ke rumah, jadi dimanapun ada kesempatan saya selalu latihan listen and repeat.
  4. Kembali lagi ke soal listening pada buku Cambridge. Awal-awal latihan akan terasa susah, tapi ketika sudah tau pola soal dan jawabannya maka akan terasa lebih mudah. Sebelum menyalakan audio, saya garis bawahi dulu kata kunci pada soalnya. Kata kunci ini apa? Bisa jadi verb, noun, place, date, person, etc. Ketika audio sudah dinyalakan fokuslah mendengarkan karena hampir seluruh kata-kata pada audio IELTS itu adalah paraphrase atau kata yang memiliki arti yang sama dengan kata yang ada pada soal dan disitulah jawaban akan berada.
  5. Selanjutnya adalah memprediksi jawaban. Maksudnya adalah memprediksi part of speech apa yang dibutuhkan untuk mengisi jawaban yang kosong. Part of speech diantaranya yaitu noun, adjective, adverb, dll. Misal setelah adjective akan diikuti oleh noun jika kalimat yang ada pada soal adalah noun phrase. Terdengar susah ya? Betul sekali bagian ini memang susah kok, dan lagi-lagi saya merasa beruntung sudah belajar grammar saat TOEFL ITP sebelumnya. Tapi jangan merasa terkendala ya dengan tips ini, karena sesungguhnya dengan latihan yang konsisten maka akan terbiasa.
  6. Sesuai saran pengajar online course di EDX, tulislah jawaban pada lembar soal tepat seperti apa yang kalian dengar namun pas dengan grammar yang ada pada soalnya.
  7. Audio speaker IELTS itu sebetulnya beraksen Inggris, namun tidak ada larangan bagi peserta yang ingin menuliskan jawaban dalam American word atau British word. Saya sendiri terbiasa dengan American word sehingga saya tidak memaksakan diri saya untuk belajar British word, cukup tau saja bedanya apa diantara keduanya.
Catatan LISTENING:
  1. Mulailah berlatih menjawab soal IELTS listening section dengan menggunakan headset, selanjutnya dengan menggunakan speaker karena actual tes IELTS listening menggunakan speaker. Dalam hal ini, berlatih menggunakan speaker itu memiliki tingkat kesulitan yang cukup tinggi dibandingkan menggunakan headset karena vocabulary akan terasa tidak terdengar jelas, tapi lama-kelamaan latihan bisa kok.
  2. Buat target score yang akan kalian capai dalam Listening, misal saya waktu itu membuat target benar 30 salah 10 supaya dapat score 7. Buat rekap penilaian sebagai history latihan, jika target belum terlaksana, berarti tingkatkan lagi latihannya.
  3. Terus semangat berlatih ya dan buat statistik kesalahan tersering ada dimana, mulai dari situ belajarlah dari kesalahan. Carilah jawabannya di google, atau cari sendiri jawabannya dengan bertanya kepada orang yang lebih pintar, atau seperti yang saya lakukan yaitu dengan belajar memahami pola soal dan jawaban IELTS. Sebagai informasi lagi saya berhasil memahami pola jawaban kapan harus menggunakan kata benda singular atau plural tapi saya tidak berhasil mengatasi kesalahan spelling karena itu membutuhkan latihan yang keras lebih dari 5 minggu.
  4. Berdasarkan pengalaman pribadi saya dan semoga ini terjadi seterusnya ya, soal IELTS listening buku Cambridge 1-12 agak lebih susah dari actual tesnya, jadi jika kalian berhasil menaklukan buku itu, semoga kalian juga bisa menaklukan soal Listening IELTS yang sebenarnya.
  5. Saya latihan listening biasanya jam 4 sd jam 6 pagi sebanyak 4 latihan soal sehari, karena biasaya pagi hari itu otak saya masih fresh.
  6. Satu lagi, mendengarkan podcast itu jauh lebih sulit ketimbang mendengarkan percakapan pada IELTS. Percakapan pada podcast itu adalah percakapan yang sebenarnya terjadi di dunia nyata dengan gaya bicara masing-masing speakernya, sementara percakapan pada IELTS itu kaku, terarah, dan kadang tidak terlalu cepat. Jadi, jangan terlalu takut sama IELTS listening section.
  7. IELTS itu sesungguhnya tidak hanya menguji grammar, tapi banyak hal lainnya juga yang diuji. Bagi saya pribadi, dengan memahami grammar setidaknya saya telah mengurangi salah satu beban belajar.

READING

Jujur saja reading ini gampang-gampang susah ya dan tips belajarnya pun serupa dengan belajar listening diatas. Berikut saya share tipsnya:

  1. Pahami tipe soal IELTS reading ini karena ada banyak sekali dan materi belajar IELTS reading yang paling bagus menurut saya ada pada online course EDX dari University of Queensland Australia.
  2. Mulai latihan mengerjakan soal IELTS reading dari buku Cambridge 1-12.
  3. Buat target score yang akan kalian capai dan buat rekap nilai, jika belum mencapai target, tingkatkan lagi latihannya.
  4. Buat statistik kesalahan tersering ada dimana dan mulailah belajar dari kesalahan tersebut.
  5. Salinlah jawaban persis seperti kata-kata yang ada pada paragraf bacaan namun sesuai dengan grammar yang ada pada soalnya.
  6. Paraphrase antara bacaan dengan soal yang ada pada IELTS reading section ini lumayan sulit sehingga dibutuhkan latihan yang banyak agar cepat dalam menemukan dimana letak jawabannya berada.
  7. Sama seperti tips yang saya berikan pada saat saya belajar TOEFL ITP, bacaan tidak perlu dibaca seluruhnya namun hanya sepenggal-penggal kalimat saja disekitar jawaban. Khusus untuk IELTS reading section 3 yang memiliki tingkat kesulitan soal lebih tinggi dibanding section 1 dan 2, sebelum membaca soal, saya baca tiap paragraf pertama untuk mendapatkan general idea tentang bacaan sekaligus memudahkan saya dalam menemukan jawaban.
  8. Actual tes IELTS reading menurut saya sama sulitnya dengan IELTS reading pada buku Cambrigde 1-12.
  9. Pada saat tes berlangsung, waktu 1 jam itu terasa cepat sekali, jika kalian stuck di satu jawaban, loncati saja. Tapi usahakan untuk tidak meloncati tipe soal sentence completion, karena menurut saya jika waktu kalian hampir habis tapi masih ada jawaban yang belum terjawab, kalian bisa mengandalkan logika dalam menjawab tipe soal multiple choice, tapi akan sulit ketika menjawab soal sentence completion karena jawabannya jelas-jelas tertulis di dalam bacaan.
  10. Mulai perbanyak membaca artikel berbahasa Inggris, selain menambah kosakata juga untuk melatih kita memahami general idea di tiap paragrafnya. Mulai dari  yang vocabularynya mudah seperti World Economic Forum, baru naik kelas ke artikel lainnya yang lebih sulit apapun itu. 

WRITING

Writing ini erat kaitannya dengan reading. Untuk itu saya banyak membaca artikel dari World Economic Forum karena bahasanya yang akademik namun mudah dipahami sehingga bisa saya contoh untuk menulis essay. Intinya sih banyak-banyak berlatih, mulai dari brainstorming sampai dengan latihan menulis 2 buah essay dalam waktu 1 jam. Saran dari Mba Kiky dan IELTS Simon itu benar-benar saya ikuti pada saat actual tes IELTS writing, namun karena saya belajar writing hanya 2 minggu sebelum tanggal ujian jadi nilai saya pas di angka 6. Kesalahan saya adalah saya terlalu fokus pada listening dan reading karena 2 sub tes itulah yang menurut saya paling bisa saya perjuangkan nilainya. Sementara untuk writing karena saya belajar sendiri dan tidak ada orang lain yang mengoreksi tulisan saya maka saya "pasrah" dengan keadaan. Beruntungnya saya sudah belajar grammar untuk TOEFL ITP, sehingga saya tidak menemukan kesulitan ketika berlatih menulis essay. Untuk mendapatkan nilai IELTS writing 6, setidaknya saya menggunakan complex sentence, passive voice, perfect tenses, tidak mengulang kata yang sama berkali-kali dan mencoba menggunakan synonym, serta beberapa kali menggunakan higher vocabulary. Di dalam beberapa buku IELTS Cambridge yang saya download, ada contoh jawaban essay writing beserta dengan scorenya. Pelajarilah pola jawabannya, sehingga jika kalian setidaknya ingin mendapat nilai 6.5, mungkin bisa belajar dari situ.


SPEAKING

Menurut saya ini bagian tersulit lainnya selain writing. Saya juga hanya berlatih speaking 2 minggu sebelum tanggal ujian dengan berlatih bersama teman-teman saya yang speaking nya bagus. Selain itu saya juga beberapa kali menyempatkan diri berlatih speaking sendiri di rumah, biasanya weekend atau sebelum tidur dengan cara merekam speaking saya di hp untuk kemudian didengarkan kembali. Lagi-lagi speaking ada kaitannya dengan grammar, ternyata grammar yang baik itu membantu saya agak lancar berbicara karena ketika saya berbicara saya juga mendengarkan suara saya sendiri dan secara tidak sadar otak saya memproduksi kata-kata agar enak untuk didengar. Intinya sih pas actual tes IELTS speaking itu tidak terlalu banyak lagged nya dan kata-kata terus mengalir meskipun dengan vocabulary sederhana, serta dengan menggunakan pronunciation dan intonation yang Indonesia banget.

Score IELTS saya pada tanggal 17 Juni 2017 adalah 7 dengan detail sbb:
Listening: 8
Reading: 7
Writing: 6
Speaking: 6.5

***

Semoga post ini membantu teman-teman yang ingin belajar TOEFL ITP maupun IELTS ya. Terlepas dari apapun tujuanmu, belajar bahasa Inggris itu bagus untuk diri kita sendiri dan orang lain baik di saat ini maupun di masa mendatang. Karena kita tidak terbiasa mendengar, membaca, berbicara, ataupun menulis bahasa Inggris dalam keseharian kita, bukan berarti kita tidak bisa. Semua pasti setuju kalau belajar apapun itu butuh proses dan tidak bisa instan. Jadi tetap semangat ya.

Untuk itu, saya bersedia membantu kalian yang ingin serius belajar TOEFL ITP atau IELTS namun dengan dana terbatas karena saya pernah mengalaminya sendiri. Meskipun nilai TOEFL ITP dan IELTS saya biasa saja, saya percaya hanya dengan berbagi maka ilmu yang saya miliki akan bertambah. Belajar bisa dilakukan di Jakarta setelah jam pulang kerja atau pada saat weekend di perpustakaan. Saya tidak menentukan tarif belajar namun sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan peserta dalam menghargai sesuatu yang akan diperolehnya. Saya dapat dihubungi melalui email blogpenuliscerita@gmail.com atau tinggalkanlah kontak di comment untuk saya hubungi.

Apabila ada yang ingin share pengalamannya belajar sendiri, buku-buku yang digunakan, atau sumber-sumber belajar lainnya juga monggo ya supaya bisa membantu yang lainnya juga. Last but not least, sekali dalam hidupmu, perjuangkanlah mimpimu seberat apapun itu.

No comments:

Post a Comment